Bagi pecinta audio, terutama jenis power OCL, biasanya tidak asing dengan sebuah trafo CT ini.
Sebab pada rangkaian power tersebut biasanya menggunakan jalur tegangan ganda pada bagian rangkaian final dari power ocl tersebut, yakni tegangan positif, 0 atau tep tengah, dan tegangan negatif. Jadi jika di lihat dari segi kebutuhan dayanya, maka jenis trafo CT lebih cocok untuk keperluan power audio tersebut., karena jumlah lilitan pada trafo CT, dua kali lipat dibanding dengan trafo non CT namun dengan nilai tegangan yang sama. Berikut skema adaptor trafo CT sederhana..Pada skema adaptor trafo ct tersebut, di antara komponennya yaitu ;
1. Trafo penurun tegangan atau di sebut trafo step down.
2. Dua buah diode penyearah
3. Dua buah kapasitor elektrolit.
Trafo yang tampak pada skema di atas, merupakan jenis trafo ct, Pada bagian lilitan primer terdiri dari tiga kaki,
pin pertama 0
pin kedua 110v
dan pin ketiga 220 atau 240v.
Untuk pemasangan jalur trafo bagian primer, disesuaikan dengan tegangan yang ada di rumah masing-masing. Biasanya di jaman sekarang, tegangan standar adalah 220v. beda dengan jaman dulu yang voltasenya di kisaran 110volt. Jadi pin 110 dalam skema tidak terhubung atau biarkan saja, dan pin 0 dan 220v terhubung ke jalur listrik PLN yang ada di rumah.
Dari sini, tegangan PLN yang berkisar 220 volt di turunkan oleh trafo tersebut melalui lilitan primer, kemudian keluar dari bagian sekunder dan nilai tegangan sudah menjadi lebih kecil namun arus tegangan masih bersifat bolak balik atau masih AC dan belum jadi DC. Nilai tegangan keluaran dari lilitan sekunder biasanya tertera di setiap bodi trafo di dekat kaki atau pin trafo tersebut,
ada yang bernilai 12-0-12 ada juga yang memiliki kaki tambahan misal 24-12-0-12-24 dan seterusnya. Yang pasti nilai 0 merupakan titik tengah atau biasa di sebut ground atau titik netral dari dua tegangan yang sama dari sebuah lilitan sekunder pada trafo CT.
Dari lilitan sekunder tadi, jika di lihat pada skema, masih bersifat arus bolak balik atau masih AC, kemudian di searahkan oleh dioda/diode penyearah. Di sini, untuk kapasitas diode nya di sesuaikan dengan kebutuhan arus beban. boleh IN4001, IN4002, IN4007 dan lain lain. sesuai kebutuhan.
Setelah melewati sebuah diode, maka arus atau tegangan sudah menjadi searah atau DC, kemudian di ratakan atau di filter oleh sebuah kapasitor elektrolit.
Untuk ukuran kapasitor elektrolit, di sesuaikan dengan tegangan dari trafo sekundernya, Jika tegangan keluaran dari trafo misal 12 volt, maka setelah melewati dioda penyearah, kapasitor yang di gunakan yaitu sekian uF/25v. dan 25v tersebut merupakan toleransi atau maksimum tegangan kerja dari kapasitor tersebut. Dan untuk kapasitas/ muatan dari kapasitor elektrolit tersebut disesuaikan dengan keperluan beban yang di pakai, bisa 470uF, 1000uF, 4700uF, dan lain sebagainya. Yang pasti, tegangan kerja dari kapasitor elektrolit, sebaiknya dua kali lipat dari tegangan aslinya.
Misal keluaran trafo 12volt, maka kapasitor elektrolitnya 1000uF/25v atau
misal keluaran trafo 24volt maka kapasitor elektrolitnya 1000uF/50v
Jika tegangan trafo sekunder setelah melewati diode penyearah, tegangannya lebih besar dari tegangan kerja kapasitor elektrolit, maka kapasitor tersebut akan meletus/ meledak. Jadi sebaiknya tegangan kerja pada kapasitor di beri lebih besar dari nilai tegangan asli, supaya ketika ada perubahan nilai tegangan di bagian primer trafo tidak menyebabkan kapasitor tadi over tegangan hingga akhirnya menggelembung dan meledak.
Memang ada rangkaian agar tegangan sekunder dari trafo tetap stabil walaupun tegangan primer trafo tersebut tidak stabil atau berubah ubah, yaitu dengan tambahan rangkaian regulasi tegangan seperti memakai IC regulator 7805, 7812, 7815, dan lain lain. Namun baiknya kita bahas di artikel selanjutnya.
Dan sekian dulu bahasan tentang skema adaptor trafo ct sederhana ini,
semoga bermanfaat
salam..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar