Berbicara tentang ilmu ikhlas, berarti kita membahas tentang kesadaran yang ada di dalam diri yaitu kesadaran batin atau kesadaran jiwa yang menyangkut soal olah rasa. Ilmu ikhlas sebenarnya masih termasuk pada kategori ilmu sifat, dan di antara contoh ilmu sifat antara lain, ilmu sabar, ilmu pasrah, ilmu ikhlas dan ilmu tulus. Dari ke empat ilmu sifat ini,
sejatinya tidaklah perlu dipelajari dari orang lain, melainkan hanya perlu membangunkannya di dalam diri kita sendiri. Yang namanya ilmu, biasanya ada tata cara atau rumus tertentu agar bisa menjadi seperti yang kita harapkan. Misal,..ingin selalu memiliki sifat sabar?, ini ada caranya.
ingin selalu memiliki sifat pasrah atau selalu berserah diri?
ingin selalu memiliki sifat tulus?
ingin selalu memiliki sifat ikhlas? semua ada caranya namun setiap sifat memiliki cara atau rumus yang berbeda, walaupun inti serta tujuannya hanya satu yaitu membangun kesadaran yang seutuhnya dalam jiwa kita.
Sifat ikhlas merupakan salah satu sifat baik dalam diri seseorang, di mana seseorang itu selalu mampu menerima sesuatu hal apa pun, baik itu ujian ataupun cobaan yang menghampirinya, Akan tetapi, sebaliknya, dia pun mampu melepaskan setiap sesuatu hal itu tanpa merasa suatu kehilangan atas apa apa yang telah menghampirinya itu. Dengan kata lain, ikhlas adalah sifat yang selalu mampu menerima dan selalu mampu untuk melepaskannya kembali.
Seperti halnya seseorang yang mendapat cobaan atau ujian dari Tuhan, baik itu bersifat materi seperti harta atau takhta dan lain sebagainya, baik dari segi kelebihan harta serta takhta maupun berupa kekurangan dari soal harta atau takhta tersebut, seorang yang memiliki sifat ikhlas, dia selalu menerima segala kondisi atau keadaan yang ia dapatkan atau yang ia miliki dan selalu bersyukur atas setiap apa apa yang didapatkannya dalam sendi kehidupannya yang Tuhan berikan. Sekalipun harta atau takhta itu hilang atau lepas dari dirinya, seorang yang ikhlas itu akan selalu rela melepaskan yang pernah dimilikinya itu, dan semua itu hanya semata mata karena atas kehendak serta tak lepas dari ketentuan Tuhan semata.
Baik atau buruknya suatu keadaan yang datang itu berasal dari Tuhan, Dan ketika baik dan buruknya suatu keadaan yang berlalu atau lepas darinya, maka semua itu juga tak lepas dari kehendak dan skenario yang Tuhan tetapkan dan sudah jadi bagian takdir atau bagian garisan alur kehidupannya. Dengan kata lain, ikhlas itu selalu rela akan baik dan buruknya yang datang, serta selalu rela jika sesuatu hal baik atau buruknya suatu keadaan itu lepas atau pergi dari hidupnya.
Setiap sesuatu yang datang itu dari dan karena Tuhan, begitu pun sebaliknya, setiap sesuatu yang pergi, hilang, atau lepas dari dirinya, juga semata mata di kembalikan lagi pada Tuhan sang pemilik kehidupan. Dan inilah bagian pola pikir dari seseorang yang memiliki sifat Ikhlas. Dia tidak pernah merasa memiliki sesuatu hal, sebab segala sesuatu hal itu semua merupakan milik Tuhan dan yang ia miliki tidak lain hanya sebatas titipan semata.
Bagaimana cara agar kita selalu bisa memiliki sifat Ikhlas itu?
Tidak dipungkiri, bahwasanya kita memiliki sifat ini dalam keseharian kita, namun dalam kenyataannya itu terjadi dan kita miliki hanya sewaktu waktu dan di beberapa situasi atau kondisi tertentu saja Terkadang di suatu waktu kita bisa merasa ikhlas, namun kadang di suatu waktu tertentu juga, kadang kita tidak merasa ikhlas, baik dalam menerima atau melepaskan sesuatu hal. Semua itu terjadi karena pasang surutnya tingkat kesadaran dalam jiwa kita.
Pasang surutnya tingkat kesadaran jiwa kita dipengaruhi oleh seberapa tinggi atau rendahnya multivitamin jiwa yang kita miliki. Seperti halnya tubuh fisik, agar senantiasa selalu dalam keadaan baik dan sehat, maka tubuh fisik memerlukan asupan nutrisi serta multivitamin, seperti makan, minum dan lain lain.
Begitu juga dengan kehidupan jiwa kita, agar jiwa selalu memiliki kesadaran yang aktif, maka jiwa ini pun memerlukan nutrisi tersendiri, dan nutrisi jiwa ini bisa berupa energi halus atau energi metafisik, atau dalam dunia spiritual atau religi, bisa di sebut energi murni atau energi suci yang terdapat di setiap unsur dasar alam semesta. Seperti halnya unsur air, memiliki fitrah tersendiri dalam agama Islam sebagai salah satu jalan kesucian atau bersuci ketika hendak beribadah kepada Allah sebelum salat yang di sebut wudu atau thaharah/ toharoh, serta unsur tanah pun bisa sebagai salah satu jalan kemurnian atau jalan kesucian dan contohnya seperti proses bersuci yaitu tayamum.
Tidak hanya dalam agama Islam, unsur dasar alam semesta pun menjadi salah satu pokok utama dalam sebuah agama, seperti halnya Api suci yang selalu mengiringi di beberapa aspek kebudayaan serta keagamaan terutama agama Hindu. Jika kita renungi lebih dalam soal hubungan konsep unsur dasar alam semesta dengan beberapa agama besar di dunia, maka:..
Agama Islam identik dengan unsur dasar alam semesta yaitu Air
Agama Budha identik dengan unsur dasar alam semesta yaitu Tanah
Agama Hindu identik dengan unsur dasar alam semesta yaitu Api
Agama Kristen identik dengan unsur dasar alam semesta yaitu Udara
Ke empat elemen unsur dasar alam semesta ini, tidak hanya melekat pada konsep keagamaan saja, namun pada hakikatnya berperan penting dalam menunjang kesadaran jati diri seseorang. Salah satunya seperti menggapai salah satu kesadaran Ilmu Ikhlas ini.
Konsep ilmu Ikhlas, berada pada unsur dasar alam semesta yaitu unsur dasar elemen Udara. Jadi, seumpama kita ingin memiliki sifat sifat ikhlas ini, maka yang diperlukan adalah menyatukan diri dengan energi murni yang ada pada unsur udara untuk membangunkan atau mengaktifkan jiwa jiwa murni yang ada di dalam diri kita. Dan energi murni unsur dasar alam semesta inilah yang di maksud multivitamin jiwa tadi, yang menjadi sebab akibat dari sebuah sifat pada setiap insan,
Untuk proses pengambilan atau penyerapan energi murni alam semesta, bisa dengan berbagai cara, bisa secara keagamaan seperti proses bersuci misal wudu, tayamum, dan lain lain tergantung agama dan kebudayaannya, cara dan tempat bisa berbeda namun tetap melibatkan salah satu unsur dalam prosesnya. Bisa juga secara personal atau individual, seperti meditasi, olah nafas dan lain lain, bertapa juga termasuk salah satu konsep menyatukan diri dengan salah satu alam semesta ada yang bertapa di gua , berarti sinkron dengan unsur tanah, ada yang bertapa di laut atau air terjun, berarti sinkron dengan unsur air, ada yang di tempat tinggi berarti sinkron dengan unsur udara atau angin, ada yang bertapa dikelilingi lentera atau lilin, berarti sinkron dengan unsur api. dan lain sebagainya.
Untuk warga sipil atau rakyat biasa, menyerap energi udara, cukup cari angin diam hayati dan resapi di setiap hembusan anginnya jiwai seakan akan energi murni dari unsur udara menyatu melewati setiap pori pori kulit. Sedangkan secara umum, menyerap energi murni unsur dasar udara, biasa dilakukan seperti meditasi olah nafas sampai hembusan udara yang keluar masuk dari hidung benar benar terasa sejuk sekali, atau terasa agak adem.
Sedangkan untuk menyerap energi murni bagi yang sudah terbuka semua simpul cakranya, tidak lagi melibatkan panca indra namun tinggal serap langsung oleh telapak tangan tanpa menyentuh secara langsung dengan objek atau unsur dasar alam semesta. Kadang kalo yang sudah ahli, bisa menyerap energi murni sambil melakukan aktivitas lain. beda dengan yang masih pemula atau awam yang biasanya harus fokus dan diam hehe..
Namun yang pasti, tetaplah jadi diri yang seutuhnya. Sebab, belajar ilmu sifat itu tak lepas dari konsep dualitas yang selalu ada sisi positif dan ada pula sisi negatifnya.
Ini hanya sebatas pemahaman umum saja. sekedar berbagi yang saya tahu dari renungan dan pengalaman serta perjalanan hidup pribadi. khususnya di kehidupan nyata dan umumnya di kehidupan online.
[ Sekedar berbagi pengetahuan di saat senggang ]
sampai jumpa di pembahasan lain.
semoga semua makhluk berbahagia
salam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar